Senin, 13 Mei 2019

KISAH DAMAR WULAN DI MAJAPAHIT

BHATARA HYANG PARAMESWARA Menurut Pararaton, nama asli Parameswara adalah AJI RATNAPANGKAJA atau di dunia kependekaran tanah jawa dikenal dengan nama DAMAR WULAN. Ibunya bernama Surawardhani alias Bhre Kahuripan, adik Wikramawardhana. Ayahnya bernama Raden Sumirat yang menjadi Bhre Pandansalas, bergelar Dyah Ranamanggala.
Dalam Nagarakretagama (ditulis 1365), Surawardhani masih menjabat Bhre Pawanuhan dan belum menikah. Gelar Bhre Kahuripan saat itu masih dijabat neneknya, yaitu Tribhuwana Tunggadewi. Menurut Pararaton, sepeninggal Tribhuwana Tunggadewi dan Surawardhani, jabatan Bhre Kahuripan kemudian diwarisi Ratnapangkaja.
Ratnapangkaja memiliki tiga saudara perempuan, yaitu Bhre Mataram, Bhre Lasem, dan Bhre Matahun.

Rabu, 08 Mei 2019

KISAH SYECH SUBAKIR, AWAL PENYEBARAN ISLAM TANAH JAWA

"SYEKH SUBAKIR SANG WALIYULLAH PENUMBAL TANAH JAWA SANG PENUMPAS DEMIT TANAH JAWA
KISAH PERJANJIAN ANTARA SABDOPALON DENGAN SYEKH SUBAKIR"

Konon ada semacam perjanjian antara Sabdopalon sebagai Pamomong (Danyang Gaib) Tanah Jawa dengan Syeh Subakir sebagai penyebar Agama Islam generasi awal di Jawa ini. Tersebutlah kisah tersebut dalam tulisan lontar kuno. Lontar tersebut diperkirakan ditulis oleh Kanjeng Sunan Drajad atau setidak – tidaknya oleh murid atau pengikut beliau.

Cerita tentang kisah ini pernah dipentaskan sebagai lakon wayang kulit bergenre wayang songsong (wayang kulit yang berisi cerita hikayat dan legenda Jawa) yang digelar di Desa Drajad, Paciran, Lamongan ( sebuah desa tempat situs Sunan Drajad ).

Kisah diawali dengan adanya persidangan di Istana Kesultanan Turki Utsmania di Istambul yang dipimpin langsung oleh Sultan Muhammad I. Persidangan kali ini membahas mimpi Sang Sultan. Menurut Sultan Muhammad, beliu bermimpi mendapat perintah untuk menyebarkan dakwah islamiah ke Tanah Jawa. Adapun mubalighnya haruslah berjumlah sembilan orang. Jika ada yang pulang atau wafat maka akan digantikan oleh ulama lain asal tetap berjumlah sembilan.

Maka dikumpulkanlah beberapa ulama terkemuka dari seluruh dunia Islam waktu itu. Para ulama yang dikumpulkan tersebut mempunyai spesifikasi keahlian masing-masing. Ada yang ahli tata negara, ahli perubatan, ahli tumbal, dll. Titah dari Baginda Sultan Muhammad kepada mereka adalah perintah untuk mendatangi Tanah Jawa dengan tugas khusus yaitu penyebaran Agama Islam.

Dibawah ini adalah dialog antara Sabdopalon dengan Syeh Subakir yang terjadi di atas Gunung Tidar. Syeh Subakir adalah salah satu ulama yang diutus Sultan Muhammad untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa ini. Adapun keahlian Syeh Subakir adalah dalam bidang membuat danmemasang tumbal. Dialog yang penulis turunkan ini adalah dialog versi imaginer yang penulis olah dari hikayat tersebut dengan sumber bahasa penulis sendiri.

Syeh Subakir : Kisanak, siapakah kisanak ini, tolong jelaskan.

Sabdopalon : Aku ini Sabdopalon, pamomong (penggembala) Tanah Jawa sejak jaman dahulu kala.  Bahkan sejak jaman kadewatan (para dewa) akulah pamomong para kesatria leluhur. Dulu aku dikenali sebagai Sang Hyang Ismoyo Jati, lalu dikenal sebagai Ki Lurah Semar Bodronoyo dan sekarang jaman Majapahit ini namaku dikenal sebagai Sabdopalon.

Selasa, 07 Mei 2019

KERAJAAN SRIWIJAYA

650 M - Dapunta Hyang (Sri Jayanasa/Jayanaga) kemungkinan mendirikan kedatuan Sriwijaya pada tahun ini. Cikal-bakalnya diperkirakan berada di Sumatra Selatan, antara kawasan Komering, Pasemah, Pagaralam, atau Musi (?).
669 M - Sri Jayanasa menikah dengan Dewi Sobakancana, putri dari Maharaja Linggawarman, penguasa terakhir kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat (Tatar Sunda). Tak lama kemudian, sang Maharaja wafat dan negaranya terpecah menjadi dua, kerajaan Sunda dan Galuh. Sumber sejarah Sunda menyebutkan kedatuan Sriwijaya dengan nama 'Suwarnadwipa'.
670 M - Sriwijaya berevolusi menjadi Kemaharajaan. Sri Jayanasa mengirimkan utusan pertamanya ke Kekaisaran Cina (Dinasti Tang), dimana pihak Cina memanggil Sriwijaya dengan julukan 'Sanfotsi'. Kemungkinan di tahun ini wilayah Sriwijaya telah mencapai pesisir Minangkabau (Minanga?), hingga masuk ke kawasan Muara Takus di Kampar.
671 M - Kunjungan biksu I-Tsing dari Cina ke Sumatra dan menetap di kota Foshih (Musi?), ibukota Sriwijaya selama enam bulan. Sebelumnya, ia telah terlebih dahulu mengunjungi negeri-negeri pesisir lain di Semenanjung Malaya dan Jawa, seperti Kelantan dan Kalingga. Dari Sriwijaya, ia melanjutkan perjalanannya ke kerajaan Malayu (Jambi) dan Kataha (Kedah), sebelum melanjutkan

Kamis, 02 Mei 2019

SEKILAS SEJARAH RAJA - RAJA KERAJAAN SERAWAI


SEKILAS SEJARAH RAJA - RAJA KERAJAAN SERAWAI
 

ZAMAN dahulu di Bengkulu Selatan berdiri beberapa kerajaan. Diantaranya kerajaan Pepinau yang didirikan sekitar tahun 1440 oleh Ramau Ratu Remindang Sakti yaitu salah satu dari Leluhur Batang Hari Sembilan putra dari Ratu Simbang Gumay atau sebutan lainnya Pangeran Suke Milung putra dari Bintang Ruanau bergelar Ratu Kebuyutan/Raja Gumay Mude yang berasal dari Rambang daerah Prabumulih yang menurut riwayat di berbagai penjuru Sumatera Selatan bahwa nenek moyangnya berasal dari Bukit Siguntang, Palembang negeri Sribujaya.
Sekitar tahun 1500-an Selamek Panjang Rambut atau biasa disebut Poyang Bejebai yang dulunya adalah Panglima 40 Hulubalang Raja Pagaruyung (tercatat dalam Riwayat Bundo Kanduang) mengembara ke berbagai daerah di Sumatera Selatan. Beliau kemudian numpang menetap di rumah Keriau Kintarejo (Ratu Gedung Agung) teman beliau semasa di pulau Jawa dahulu yang telah mendirikan Dusun Gedung Agung di tepian air deras.
Beliau kemudian menikahi Puteri Ratu Rejang Dusun Sebiris. Kemudian Ramau Ratu Agung Tua anak dari Remindang Sakti (Raja Kerajaan Pepinau) mengangkatnya menjadi Keriau di Dusun Sebiris, disinilah beliau dikaruniai 4 orang anak dan 1 orang anak angkat.
Setelah Perang Gunung Kumbang yang terjadi sekitar tahun 1514 pada zaman pemerintahan Ramau Ratu Puteri Rambut Mas dan suaminya Syech Aminullah (Sutan Makhdum Sakti) yang berasal dari Sumaniak kerajaan Pagaruyung, berhasil mengembangkan dusun-dusun dan memperluas wilayah kerajaan Pepinau sampai ke wilayah Tebing Batu.