Jumat, 21 Juni 2019

Legenda Putri Gading Cempaka dari Bengkulu


Legenda Putri Gading Cempaka dari Bengkulu Dahulu didaerah bengkulu tinggi pernah berdiri sebuah kerajaan yang bernama kerajaan sungai serut. Raja pertama kerajaan ini bernama Ratu Agung, Ratu Agung memerintah negri itu dengan arif dan bijaksana. Ratu Agung mempunyai 6 orang putra dan seorang putri, keenam putra tersebut adalah Kelamba Api atau Raden Cili, Manuk Mencur, Lemang Batu, Tajuk Rompong, Rindang Papan, Anak Dalam, Yang bungsu adalah Putri Gading Cempaka. Selain karena kepemimpinan Ratu Agung kerajaan ini menjadi terkenal juga karena kecantikan Putri Gading Cempaka. 
Suatu hari

Hikayat Putri Gading Cempaka

Hikayat Putri Gading Cempaka berasal dari cerita rakyat daerah Bengkulu Utara. Putri Gading Cempaka adalah anak bungsu dari Raja Ratu Agung. Raja Ratu Agung sendiri berasal dari Kerajaan Majapahit. Berdasarkan cerita, Putri Gading Cempaka merupakan leluhur dari raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Sungai Lemau, Bengkulu Utara.
Alkisah pada zaman dahulu, di daerah Bengkulu Tinggi, pernah berdiri sebuah kerajaan bernama Kerajaan Sungai Serut. Ratu Agung, seorang pangeran dari Kerajaan Majapahit, merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Sungai Serut. Konon, ia merupakan penjelmaan dewa dari Gunung Bungkuk yang bertugas mengatur kehidupan di bumi.
Ratu Agung memerintah Kerajaan Sungai Serut dengan arif bijaksana. Ia sangat disegani oleh rakyatnya, meskipun rakyat yang dipimpinnya adalah bangsa Rejang Sawah yang memiliki perawakan tinggi besar.
Ratu Agung mempunyai enam orang putra dan seorang putri. Keenam putra Ratu Agung adalah Kelamba Api atau Raden Cili, Manuk Mincur, Lemang Batu, Tajuk Rompong, Rindang Papan, Anak Dalam, dan yang paling bungsu adalah seorang putri bernama Putri Gading Cempaka.

Jumat, 14 Juni 2019

KERAJAAN BANGKAHULU 1

Kerajaan SUNGAI SERUT  adalah RATU AGUNG ......
Masyarakat yang dipimpinnya adalah Masyarakat REJANG SAWEAK (Masyarakat di Sekitar Gunung Bungkuk sekarang) ”.

Ratu Agung mempunyai anak 7 orang, yaitu :
1. Anak Dalam Muara Bengkulu
2. Lemang Batu
3. Rindang Papan
4. Manik Mancur
5. Kelambu Api
6. Anta Kusuma
7. Putri Gading Cempaka

Pada pemerintahan ANAK DALAM wilayahnya meluas ke utara sampai ke dusun-dusun di tepi Air Lais dan Air Ketahun dan ke selatan sampai ke Air Lempuing.
Pada zaman Anak Dalam ini pula telah berdatangan para pedagang Aceh ke Bandar kecil Sungai Serut dan bermukim di bukit dekat pantai, yang sampai sekarang dikenal dengan sebutan BUKIT ACEH, untuk membeli lada dan hasil bumi lainnya.

Menurut tambo Bengkulu, PUTRA RAJA ACEH yang juga pedagang melihat Putri Gading Cempaka yang cantik itu. Kemudian jatuh hati dan berniat meminangnya, Demi memperkuat pengaruhnya, beliau menyetujui putranya meminang putri disertai oleh satu pasukan, tetapi ditolak oleh Raja Anak Dalam Muar Bangkahulu.
Sebagai akibat penolakan itu, putra Sultan Aceh memerintahkan penglima pasukan laut memerangi Anak Dalam.
Sekalipun perang ini tidak seimbang, rakyat tetap mempertahankan dengan sungguh-sungguh daerahnya sehingga banyak memakan korban yang bergelimpangan di Muara Sungai Serut
Dimana dalam perang tersebut menurut riwayat dari Bukit Aceh, semua pasukan aceh tersebut Tewas dan dari pihak Kerajaan Sungai Serut pun banyak jatuh korban,
Dalam perang tersebut untuk mengalahkan aceh Raja Anak Dalam di Bantu seorang pengembara bernama BINTANG RUANO
Kemudian Raja Anak Dalam MENGUNGSI ke pedalaman (Gunung Bungkuk) dan kerajaannya tidak bisa di tempati karna tidak tahan dengan bau bangkai akibat perang, dan Perang Tersebut Berakhir dengan istilah ACEH KALAH BENGKULU SILAM

Dengan peristiwa di atas, maka orang-orang Rejang di Luak Pesisir (Rejang Sabah) kehilangan rajanya dan berkeliaran tanpa pimpinan kesatuan mereka. Sekalipun denmikian, setiap dusun masih dikepalai seorang pemimpin yang dipilih rakyatnya dan bertugas memimpin serta menegakkan adat istiadat yang berlaku di dusun sebagai masyarakat hukum adat

TIGA SIGUNTANG

Legenda Wan Empuk dan Wan Malini (Balai Rong Berpusing di Bukit Siguntang)
dikutip dari :

Terdapat keanehan dalam kewujudan bangsa Melayu termasuklah jurai keturunan raja-rajanya dan ini kita boleh lihat dalam buku Sejarah Melayu karangan W.G Shelabear.

Tersebut kisah dua adik beradik iaitu Wan Empuk dan Wan Malini yang tinggal di Bukit Siguntang, pada satu malam mereka melihat ada cahaya dilangit dan turunlah “Balai Rong Berpusing” yang mendarat di kawasan padi mereka.

Padinya berbuahkan emas.

Dari perut “Balai Rong Berpusing” itu keluarlah tiga orang anak raja dengan senjata yang pelik-pelik,

SUKU OGAN

SUKU OGAN
Kisah Arya Penangsang di ogan

Setelah runtuhnya Kedatuan Sriwijaya abad ke-11 Masehi, masyarakat dipinggiran sungai ogan,  mendapat pengaruh budaya dari para pendatang.

Di masa Raden Ario Dillah (Sultan Abdullah) berkuasa, diperkirakan  perkembangan Islam sangat pesat di Masyarakat Ogan. Keluarga Para Penyebar Islam, kemudian membaur dengan Suku Ogan, dan pada akhirnya menjadi bagian dari Leluhur Suku ini.

Leluhur Suku Ogan disinyalir ada yang berasal dari Lampung, Palembang dan Tanah Jawa, diantara yang tercatat adalah :

1.Keluarga Sanghyang Sakti Nyata.
Berdasarkan catatan masyarakat Lampung Pesisir Waylima, dikisahkan beliau memiliki 7 orang anak, yang kemudian menjadi leluhur bagi Suku Ogan, Rejang, Semende, Pasemah, Komering dan Lampung

SEJARAH SEMENDE

Semende dalam sejarah
Menyebut dan membicarakan Semende, maka akan terjadi rangkaian kata dan makna dengan sebutan:

1. Jeme Semende
2. Tanah Semende
3. Bahasa Semende
4. Adat Semende

I. ORANG SEMENDE/JEME SEMENDE

Orang Semende atau Jeme Semende merupakan komunitas tersendiri di Provinsi Sumatera Selatan yang tinggal dan berdiam di Kecamatan Semende, Kabupaten Muara Enim. Semende termasuk bagian dari kelompok Pasemah, termasuk Lematang,

BHIKKU MELAYU DHARMAKIRTI



Suvarnadvipi Dharmakirti atau dalam bahasa Tibet disebut dengan Serlingpa Dharmakirti (Dharmakirti of Suvarnadvipa / Dharmakirti of Sumatra) merupakan seorang Mahaguru Buddhis, bhikku, filsuf, dan penyair MELAYU pada abad ke-10 Masehi yang berasal dari Suvarnadvipa (SUMATERA), Kemaharajaan Srivijaya, serta salah satu alumnus dan Mahaguru/pengajar di Universitas Nalanda, India, dimana dahulu kala para bhikku Buddha dari berbagai negara pergi dan menetap di Universitas ini untuk mempelajari ilmu agama Buddha dan kitab-kitab agama Buddha

SRIWIJAYA

Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan maritim terbesar di nusantara yang sangat berpengaruh sejak abad ke-7 tepat tahun 671 M oleh Dapunta Hyang Jayanasa hingga tahun 1025 M dan ada yang menyebut sampai abad ke-13. Wilayah kekuasaan kerajaan ini meliputi Sumatera, Semenanjung Melayu, Jawa bagian Barat, Kalimantan Barat, dan bahkan sampai ke Thailand, Philipina, dan juga Kamboja. Bukti-bukti sejarah yang menunjukkan wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya bisa ditemui di Palembang. Di mana Palembang zaman dulu pernah menjadi ibu kota kerajaan Bahari Buddha terbesar di Asia Tenggara

SEJARAH SINGAPURA

Sejarah Singapura Sang Nila Utama ialah seorang putera dari keturunan diraja Srivijaya yang menubuhkan kerajaan Singapura lama pada tahun 1324. Baginda ialah anak kepada pasangan Sri Nila Pahlawan (Sri Maharaja Sang Sapurba Paduka Sri Trimurti Tri Buana) dan Wan Sendari (anak kepada Demang Lebar Daun pemerintah Palembang).

TAMBO MINANGKABAU

Berdasarkan Tambo Alam Minangkabau, semasa pemerintahan Datuk Suri Diraja di Nagari Pariangan, datanglah Rusa Emas dari Lautan, rusa itu kemudian dapat dijerat oleh datuk.
Cerita ini sejatinya adalah kiasan dari datangnya seorang raja bermahkota dari Wangsa Syailendra, yang menyingkir ke Gunung Marapi. Di Pariangan sang bangsawan ini dikawinkan dengan adik Datuk Suri Diraja dan kemudian dirajakan dengan gelar Sri Maharaja Diraja (sumber : Asal Muasal Pagaruyung).
minang Sri Maharaja Diraja, cucu Maharaja Sulan Bukit Siguntang Palembang
Dalam Hikayat Palembang, selepas Kedatuan Sriwijaya tepecah akibat serangan Kerajaan Chola tahun 1025 M, muncul Kerajaan Bukit Siguntang di wilayah Palimbang. Penguasa Bukit Siguntang dikenal dengan nama Maharaja Sulan (Raja Segentar Alam).
Maharaja Sulan diperkirakan memerintah pada sekitar tahun 1070an Masehi, dikemudian hari memeluk Islam

TIGA PUTRA DI SIGUNTANG

tiga putra Suran (mungkin Bitjiram Syah –> Kulothanga Chola ) menjadi raja di tiga daerah Melayu (Malai+ur :”"NEGERI BUKIT” , Saila + Indra : “PENGUASA BUKIT”) yakni :
Nila Pahlawan gelar Sang Sapurba di Pagaruyung.
Nila Krisna Pandita di Tanjungpura.
Nila Utama gelar Seri Teribuana di Palembang pindah ke Bintan pindah ke Tumasik/Singapura.
Sang Sapurba sangat jelas dinyatakan dijemput oleh Patih Suatang (Datuk Perpatih Nan Sebatang). Nila Utama dirajakan oleh Demang Lebar Daun (Palembang) dan dinobatkan Wan Seri Beni (Bintan). Sementara Krisyna Pandita hanya dikatakan dijemput oleh patih Tanjungpura tanpa menyebutkan nama patihnya.
Kontroversi

CANDI LARAS - KALIMANTAN SELATABN

Situs Candi Laras Kalimantan Selatan

Pada situs candi ini ditemukan potongan-potongan arca Batara Gurumemegang cupu, lembu Nandini dan lingga. Semuanya disimpan di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru. Letak candi ini tidak berada pada lokasi yang strategis, sehingga diperkirakan candi ini didirikan untuk maksud-maksud tertentu dan diperkirakan merupakan candi kenegaraan. Di dalam daerah yang berdekatan dengan candi ini, yaitu di daerah aliran sungai Amas ditemukan pula sebuah arca Buddha DÄ«pankara dan potongan batu yang bertuliskan aksara Pallawa yang berkaitan dengan agama Buddha, berbunyi “siddha” (selengkapnya seharusnya berbunyi “jaya siddha yatra” artinya “perjalanan ziarah yang mendapat berkat”).

Senin, 13 Mei 2019

KISAH DAMAR WULAN DI MAJAPAHIT

BHATARA HYANG PARAMESWARA Menurut Pararaton, nama asli Parameswara adalah AJI RATNAPANGKAJA atau di dunia kependekaran tanah jawa dikenal dengan nama DAMAR WULAN. Ibunya bernama Surawardhani alias Bhre Kahuripan, adik Wikramawardhana. Ayahnya bernama Raden Sumirat yang menjadi Bhre Pandansalas, bergelar Dyah Ranamanggala.
Dalam Nagarakretagama (ditulis 1365), Surawardhani masih menjabat Bhre Pawanuhan dan belum menikah. Gelar Bhre Kahuripan saat itu masih dijabat neneknya, yaitu Tribhuwana Tunggadewi. Menurut Pararaton, sepeninggal Tribhuwana Tunggadewi dan Surawardhani, jabatan Bhre Kahuripan kemudian diwarisi Ratnapangkaja.
Ratnapangkaja memiliki tiga saudara perempuan, yaitu Bhre Mataram, Bhre Lasem, dan Bhre Matahun.

Rabu, 08 Mei 2019

KISAH SYECH SUBAKIR, AWAL PENYEBARAN ISLAM TANAH JAWA

"SYEKH SUBAKIR SANG WALIYULLAH PENUMBAL TANAH JAWA SANG PENUMPAS DEMIT TANAH JAWA
KISAH PERJANJIAN ANTARA SABDOPALON DENGAN SYEKH SUBAKIR"

Konon ada semacam perjanjian antara Sabdopalon sebagai Pamomong (Danyang Gaib) Tanah Jawa dengan Syeh Subakir sebagai penyebar Agama Islam generasi awal di Jawa ini. Tersebutlah kisah tersebut dalam tulisan lontar kuno. Lontar tersebut diperkirakan ditulis oleh Kanjeng Sunan Drajad atau setidak – tidaknya oleh murid atau pengikut beliau.

Cerita tentang kisah ini pernah dipentaskan sebagai lakon wayang kulit bergenre wayang songsong (wayang kulit yang berisi cerita hikayat dan legenda Jawa) yang digelar di Desa Drajad, Paciran, Lamongan ( sebuah desa tempat situs Sunan Drajad ).

Kisah diawali dengan adanya persidangan di Istana Kesultanan Turki Utsmania di Istambul yang dipimpin langsung oleh Sultan Muhammad I. Persidangan kali ini membahas mimpi Sang Sultan. Menurut Sultan Muhammad, beliu bermimpi mendapat perintah untuk menyebarkan dakwah islamiah ke Tanah Jawa. Adapun mubalighnya haruslah berjumlah sembilan orang. Jika ada yang pulang atau wafat maka akan digantikan oleh ulama lain asal tetap berjumlah sembilan.

Maka dikumpulkanlah beberapa ulama terkemuka dari seluruh dunia Islam waktu itu. Para ulama yang dikumpulkan tersebut mempunyai spesifikasi keahlian masing-masing. Ada yang ahli tata negara, ahli perubatan, ahli tumbal, dll. Titah dari Baginda Sultan Muhammad kepada mereka adalah perintah untuk mendatangi Tanah Jawa dengan tugas khusus yaitu penyebaran Agama Islam.

Dibawah ini adalah dialog antara Sabdopalon dengan Syeh Subakir yang terjadi di atas Gunung Tidar. Syeh Subakir adalah salah satu ulama yang diutus Sultan Muhammad untuk menyebarkan Islam di Tanah Jawa ini. Adapun keahlian Syeh Subakir adalah dalam bidang membuat danmemasang tumbal. Dialog yang penulis turunkan ini adalah dialog versi imaginer yang penulis olah dari hikayat tersebut dengan sumber bahasa penulis sendiri.

Syeh Subakir : Kisanak, siapakah kisanak ini, tolong jelaskan.

Sabdopalon : Aku ini Sabdopalon, pamomong (penggembala) Tanah Jawa sejak jaman dahulu kala.  Bahkan sejak jaman kadewatan (para dewa) akulah pamomong para kesatria leluhur. Dulu aku dikenali sebagai Sang Hyang Ismoyo Jati, lalu dikenal sebagai Ki Lurah Semar Bodronoyo dan sekarang jaman Majapahit ini namaku dikenal sebagai Sabdopalon.

Selasa, 07 Mei 2019

KERAJAAN SRIWIJAYA

650 M - Dapunta Hyang (Sri Jayanasa/Jayanaga) kemungkinan mendirikan kedatuan Sriwijaya pada tahun ini. Cikal-bakalnya diperkirakan berada di Sumatra Selatan, antara kawasan Komering, Pasemah, Pagaralam, atau Musi (?).
669 M - Sri Jayanasa menikah dengan Dewi Sobakancana, putri dari Maharaja Linggawarman, penguasa terakhir kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat (Tatar Sunda). Tak lama kemudian, sang Maharaja wafat dan negaranya terpecah menjadi dua, kerajaan Sunda dan Galuh. Sumber sejarah Sunda menyebutkan kedatuan Sriwijaya dengan nama 'Suwarnadwipa'.
670 M - Sriwijaya berevolusi menjadi Kemaharajaan. Sri Jayanasa mengirimkan utusan pertamanya ke Kekaisaran Cina (Dinasti Tang), dimana pihak Cina memanggil Sriwijaya dengan julukan 'Sanfotsi'. Kemungkinan di tahun ini wilayah Sriwijaya telah mencapai pesisir Minangkabau (Minanga?), hingga masuk ke kawasan Muara Takus di Kampar.
671 M - Kunjungan biksu I-Tsing dari Cina ke Sumatra dan menetap di kota Foshih (Musi?), ibukota Sriwijaya selama enam bulan. Sebelumnya, ia telah terlebih dahulu mengunjungi negeri-negeri pesisir lain di Semenanjung Malaya dan Jawa, seperti Kelantan dan Kalingga. Dari Sriwijaya, ia melanjutkan perjalanannya ke kerajaan Malayu (Jambi) dan Kataha (Kedah), sebelum melanjutkan

Kamis, 02 Mei 2019

SEKILAS SEJARAH RAJA - RAJA KERAJAAN SERAWAI


SEKILAS SEJARAH RAJA - RAJA KERAJAAN SERAWAI
 

ZAMAN dahulu di Bengkulu Selatan berdiri beberapa kerajaan. Diantaranya kerajaan Pepinau yang didirikan sekitar tahun 1440 oleh Ramau Ratu Remindang Sakti yaitu salah satu dari Leluhur Batang Hari Sembilan putra dari Ratu Simbang Gumay atau sebutan lainnya Pangeran Suke Milung putra dari Bintang Ruanau bergelar Ratu Kebuyutan/Raja Gumay Mude yang berasal dari Rambang daerah Prabumulih yang menurut riwayat di berbagai penjuru Sumatera Selatan bahwa nenek moyangnya berasal dari Bukit Siguntang, Palembang negeri Sribujaya.
Sekitar tahun 1500-an Selamek Panjang Rambut atau biasa disebut Poyang Bejebai yang dulunya adalah Panglima 40 Hulubalang Raja Pagaruyung (tercatat dalam Riwayat Bundo Kanduang) mengembara ke berbagai daerah di Sumatera Selatan. Beliau kemudian numpang menetap di rumah Keriau Kintarejo (Ratu Gedung Agung) teman beliau semasa di pulau Jawa dahulu yang telah mendirikan Dusun Gedung Agung di tepian air deras.
Beliau kemudian menikahi Puteri Ratu Rejang Dusun Sebiris. Kemudian Ramau Ratu Agung Tua anak dari Remindang Sakti (Raja Kerajaan Pepinau) mengangkatnya menjadi Keriau di Dusun Sebiris, disinilah beliau dikaruniai 4 orang anak dan 1 orang anak angkat.
Setelah Perang Gunung Kumbang yang terjadi sekitar tahun 1514 pada zaman pemerintahan Ramau Ratu Puteri Rambut Mas dan suaminya Syech Aminullah (Sutan Makhdum Sakti) yang berasal dari Sumaniak kerajaan Pagaruyung, berhasil mengembangkan dusun-dusun dan memperluas wilayah kerajaan Pepinau sampai ke wilayah Tebing Batu.