Situs Candi Laras Kalimantan Selatan
Pada situs candi ini ditemukan potongan-potongan arca Batara
Gurumemegang cupu, lembu Nandini dan lingga. Semuanya disimpan di Museum
Lambung Mangkurat, Banjarbaru. Letak candi ini tidak berada pada lokasi
yang strategis, sehingga diperkirakan candi ini didirikan untuk
maksud-maksud tertentu dan diperkirakan merupakan candi kenegaraan. Di
dalam daerah yang berdekatan dengan candi ini, yaitu di daerah aliran
sungai Amas ditemukan pula sebuah arca
Buddha Dīpankara dan potongan batu yang bertuliskan aksara Pallawa yang
berkaitan dengan agama Buddha, berbunyi “siddha” (selengkapnya
seharusnya berbunyi “jaya siddha yatra” artinya “perjalanan ziarah yang
mendapat berkat”).
Kalimat tersebut mengingatkan pada baris ke sepuluh prasasti kedukan
bukit peninggalan kerajaan Sriwijaya abad ke 7 M “Sriwijaya jaya siddha
yatra subhiksa”. kemiripan kalimat pada kedua prasasti mungkin
menunjukan adanya hubungan antara kerajaan Sriwijaya dengan Tapin. Situs
purbakala Candi Laras ini diperkirakan dibangun pada 1300 Masehi oleh
Jimutawahana, keturunan Dapunta Hyang dari kerajaan Sriwijaya.
Jimutawahana inilah yang diperkirakan sebagai nenek moyang warga Tapin.
Berdasarkan penemuan benda arkeologi yang ditemukan di sekitar situs
ini berasal dari abad ke-8 atau ke-9. Di daerah yang berdekatan dengan
candi tersebut, yaitu di jalan Desa Baringin B dekat sungai Tambingkaran
termasuk daerah aliran Sungai Amas ditemukan arca . Keadaanya sudah
rusak bagian tangan kanan dan kedua kaki sudah patah. Arca Buddha itu
dibuat dari bahan perunggu dengan ukuran lebar 8 cm dan tinggi 21 cm.
Digambarkan berdiri memakai jubah yang disampirkan pada bahu kiri.
Tangan kirinya ke depan sambil memegang ujung jubah. Wajahnya
digambarkan agak bulat dengan mata sipit dan mulut dengan ujung bibirnya
agak ke atas seperti pada wajah arca-arca Thailand. Melihat ciri
wajahnya arca Buddha itu berlanggam Dwarawati yang berkembang pada
sekitar abad ke-8 Masehi. Fragmen prasasti batu dengan tulisan beraksara
Pallawa ditemukan di dasar Sungai Amas.
Prasasti berbahasa
Melayu Kuno ini yang berkaitan dengan “perjalanan suci”, berbunyi //…
siddha…// (selengkapnya seharusnya berbunyi // jaya siddha yatra//
artinya “perjalanan suci yang mendapat berhasil”). Prasasti siddhayatra
ini kalau dilihat bentuk akasaranya sejaman dengan prasasti siddhayatra
yang banyak ditemukan dari daerah Palembang, Dilihat dari gaya seni arca
Buddha Dipaŋkara dan bentuk aksara pada fragmen prasasti diduga bahwa
tempat itu sudah ada penduduk sejak abad ke-7-8 Masehi. Pada 2000
dilakukan penelitian radiokarbon C-14 dari sampel tonggak kayu ulin yang
masih tertancap di lokasi aslinya, dan dihasilkan penanggalan sekitar
abad ke-14 Masehi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar