Jumat, 14 Juni 2019
BHIKKU MELAYU DHARMAKIRTI
Suvarnadvipi Dharmakirti atau dalam bahasa Tibet disebut dengan Serlingpa Dharmakirti (Dharmakirti of Suvarnadvipa / Dharmakirti of Sumatra) merupakan seorang Mahaguru Buddhis, bhikku, filsuf, dan penyair MELAYU pada abad ke-10 Masehi yang berasal dari Suvarnadvipa (SUMATERA), Kemaharajaan Srivijaya, serta salah satu alumnus dan Mahaguru/pengajar di Universitas Nalanda, India, dimana dahulu kala para bhikku Buddha dari berbagai negara pergi dan menetap di Universitas ini untuk mempelajari ilmu agama Buddha dan kitab-kitab agama Buddha
yang original dan berbahasa Sanskerta serta Pali
Ia juga merupakan pendiri ilmu Logika Filosofis India dan ahli ilmu Atomisme Buddha di Universitas Nalanda
Filsafat Dharmakirti ialah waktu yang tidak berawal, dimana menurutnya jalan pikiran manusia itu tidak berawal, sebab tidak ada awal yang benar dan tidak ada akhir yang benar.
Dharmakirti sebagai ahli Atomisme Buddha menyatakan bahwa atom itu adalah sebuah titik dan tidak terbatas, serta menghasilkan energi
Ia juga menyatakan bahwa dalam ilmu Atomisme Buddha sesuatu yang dianggap ada hanyalah keadaan sementara yang sadar
Ia lahir sekitar abad ke-10 Masehi di PALEMBANG, ibunegara/ibukota Kemaharajaan Srivijaya dan ia masih merupakan kerabat dekat keluarga kemaharajaan, sebab ia juga merupakan anggota dari Dinasti Sailendra dan bergelar Pangeran (Prince)
Seorang Mahaguru Buddhis dari Bengal yang menyebarkan agama Buddha di negeri Tibet yang bernama Atisha Dipamkara Srijnana merupakan murid Dharmakirti
Atisha pernah menetap selama kurang lebih 12 tahun di Palembang, Kemaharajaan Srivijaya untuk mengembangkan Bodhichitta di bawah ajaran Dharmakirti dengan cara melatih pikiran, menyamakan, dan menukar diri sendiri dengan makhluk yang lain, juga menerima dan memberi Tongleng, yaitu berlatih secara sukarela menerima beban kesengsaraan dan penderitaan dari makhluk lain dan memberikan kepada yang lain segala kesehatan dan kebahagiaan
Setelah selesai mendidik Atisha, Dharmakirti memberi nasihat agar Atisha pergi menyebarkan ajaran Buddha ke utara, di mana tanah berwarna putih
Tempat itulah yang sekarang kita kenal dengan dataran tinggi Tibet, yang tanahnya selalu berwarna putih sepanjang masa akibat ditutupi oleh salju
Dharmakirti tidak pernah mengunjungi Tibet, namun dia memiliki penglihatan batin akan tempat itu
Akhirnya, Atisha pun berhasil menyebarkan ajaran Buddha di Tibet dan ia tak lupa mengajarkan meditasi yang dulu diajarkan oleh gurunya, Dharmakirti kepada orang-orang Tibet dan meditasi tersebut menjadi teknik meditasi dasar di Tibet yang dinamakan Meditasi Tongleng
Kini ajaran dan teori Dharmakirti diilhami dan dipelajari dalam kurikulum biara oleh para bhikku di Tibet dan Dagpo Rinpoche Lobsang Jhampel Jhampo Gyatso (lahir 1932) dari Tibet diyakini dan dikukuhkan oleh Dalai Lama ke-13 sebagai reinkarnasi dari Dharmakirti
Oleh karena ia merasa sebagai reinkarnasi dari Dharmakirti, maka Dagpo Rinpoche Lobsang Jhampel Jhampo Gyatso mengunjungi Indonesia pada tahun 1988
Nama Dharmakirti, bersama-sama dengan nama seorang Bhikku Melayu Palembang populer pada era Srivijaya lainnya, yaitu Sakyakirti, juga terdapat dalam lirik lagu daerah Palembang, yang berjudul GENDING SRIWIJAYA, tepatnya pada bagian reffrain:
"SRIWIJAYA..........
DENGAN ASRAMA AGUNG SANG MAHAGURU
TUTUR SABDA DHARMAPALA
SAKYAKIRTI DHARMAKIRTI
BERKUMANDANG..........
DARI PUNCAKNYA SEGUNTANG MAHAMERU
MENABURKAN TUNTUNAN SUCI
GAUTAMA BUDDHA SAKTI"
Karya-karya Dharmakirti diantaranya:
1. Saṃbandhaparikṣhāvrtti (Analysis of Relations)
2. Pramāṇaviniścaya (Ascertainment of Valid Cognition)
3. Pramāṇavārttikakārika (Commentary on Dignaga's 'Compendium of Valid Cognition')
4. Nyāyabinduprakaraṇa (Drop of Reasoning)
5. Hetubindunāmaprakaraṇa (Drop of Reasons)
6. Saṃtānāntarasiddhināmaprakaraṇa (Proof of Others' Continuums)
7. Vādanyāyanāmaprakaraṇa (Reasoning for Debate)
8. Saṃtãnãntarasiddhi (Substantiation of Other Mindstreams)
Jadi, sebagai orang Indonesia, terutama sebagai orang Melayu, kita harus bangga, sebab Suvarnadvipi Dharmakirti adalah satu-satunya orang MELAYU yang menjadi Mahaguru Buddhis, penyair, filsuf, pengajar, dan alumnus Universitas Nalanda yang terkemuka di dunia
Bahkan, Atisha yang merupakan Mahaguru Buddhis dari India (Bengal) saja berguru pada seorang Mahaguru MELAYU dari Srivijaya.
catatan:
#Terlepas dari mayoritas etnis Melayu sekarang ini yang telah memeluk agama Islam, dan menjadikan Islam sebagai sendi kehidupan serta adat istiadatnya, namun etnis Melayu dahulunya juga pernah memeluk agama Buddha sebelum datangnya Islam ke Nusantara, bahkan menjadi etnis penganut Buddha terbesar pada masa itu , srivijaya menjadi pusat pembelajaran ilmu agama Buddha bagi para penganut agama Buddha dari Asia Timur; China, Japan, dan Korea, dimana para penganut agama Buddha dari Asia Timur mesti tinggal, menetap, dan belajar ilmu agama Buddha terlebih dahulu di wilayah etnis Melayu, khususnya Palembang dan Muara Jambi, untuk mempelajari dan menguasai ilmu-ilmu agama Buddha serta Bahasa Sansekerta dan Bahasa Pali, sebelum diberangkatkan ziarah ke India
Artinya, MELAYU pernah menjadi pusat pendidikan dan pengajaran agama Buddha pada masa lampau.
#Orang melayu satu bangsa yg kuat dari segi spiritual, oleh sebab itu agama mana pun mereka anuti mereka akan menjadi amat mahir dalam agama tersebut, kerana itu juga amalan amalan kebatinan dan sebagainya amat tebal dalam masyarakat melayu.
#Melayu Menjalankan prinsip Total dalam beragama sehingga ia Masuk dalam semua sendi hidup dan budaya.
Yang diatas menjelaskan pada masa Buddha.
Dan kini Islam pun Menjadi ruh dari jatidiri Melayu;
Syahadat Menjadi Pintu gerbang Kemelayuan:
"Adat Besandi Syara
Syara Besandi Kitabullah".
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar